Langsung ke konten utama

#Review Buku “Omong Kosong yang Menyenangkan” karya Robby Julianda

th
Oleh waktu aku tergilas
Menepi itu yang kulakukan
Oleh waktu aku tak diacuhkan
Nelangsa itu yang kurasakan
Geming tak terhindarkan
Kian membuncah dalam pikiran
Olehku, kumelumatnya tanpa sisa
Sampai aku lelah sendiri
Olehku mendiamkan dirimu
Nantinya kau sadar sendiri
Getir aku dibuatmu

Jika saja otakku dapat berbicara, mungkin ia akan membaca puisi diatas untukku. Gegara hampir dua pekan sebelum bulan puasa tidak pernah membaca novel seperti yang biasa kulakukan. Ini bukan karena malas yah, tapi efek dari ikut-ikutanku dengan kebiasaan kebanyakan orang ketika hendak ujian -apalagi kalau bukan fokus belajar. Jangankan pegang novel, melirik sedikitpun tidak J. Maka dari itu, setelah bertempur dengan matakuliah aku memutuskan untuk mencari bahan bacaan yang tidak membuat kepala jadi pening.
Aku sebenarnya bingung harus memilih buku yang mana, sama seperti bingungku kalau lagi milih buku di Gramedia (pasti kalian juga pernah rasakan ini bukanJ). Setelah lima menit barulah kutemukan buku yang kurasa pas untuk dibaca, pilihanku jatuh pada buku bersampul biru dengan gambar kaleng Sarden. Yah, tepat sekali buku itu berjudul Omong Kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda.
Sepertinya saat itu memang aku butuh cerita-cerita omong kosong, dengan topik serta kalimat-kalimat yang sederhana. Buku kedua Robby ini setelah  novelnya Menunggu Minggu Pagi kumiliki tiga bulan lalu seharga Rp. 48.000, cukup terjangkau. Buku terbitan mojok ini semakin membuatku penasaran, karena mendapat sanjungan serta direkomendasikan oleh Eshar Tegar Putra –Sastrawan.
Novelet ini berkisah tentang Sal sang tokoh utama yang terkena begal dan tak sadarkan diri setelah benda keras menghantam belakang kepalanya. Setelah sadar ia sudah berada di sebuah rumah milik perempuan berumur dua puluhan yang belum menikah bernama Lani. Pemuda itu tinggal selama dua hari, disana pulalah ia melihat kaleng Sarden bertuliskan Sardines in Tomato Sauce yang berisi abu pembakaran seekor kucing kesayangan Lani bernama Penny Lane –diambil dari judul lagu The Beatles. Sal juga mendapatkan hadiah berupa buku berjudul Seribu Burung Bangau karya Yasunari Kawabata. Tentu saja keduanya adalah simbolik, bukan sekadar kaleng Sarden dan  novel semata.
Dalam penulisan beberapa adegan, penulis tidak terlepas dari budaya modern, seperti kutipan film dan lagu yang mengikuti gaya hidup anak-anak muda di kota besar. Alur cerita begitu mengalir, karena disampaikan dengan santai, ringan dan tidak bertele-tele. Kita akan disuguhkan  dengan pertemuan-pertemuan para tokohnya yang tidak terduga, walaupun kadang tidak begitu penting. Dimana setiap pertemuan itu bak roda nasib yang suatu hari menjadi keberuntungan ataupun sebaliknya.
Seperti pertemuan Sal dengan Laurell si bule asal Slandia Baru yang tiba-tiba menghampiri dan mengajaknya ngobrol, serta tak segan-segan untuk meminta kopi dan rokok. Sal baru tahu bahwa ternyata bule itu sinting setelah Lani bercerita sepulang dari restoran, meski Lani tak tahu bahwa Sal sebelumnya telah bertemu Laurell J. Terbayang, sudah pasti saat itu Sal merasa sangat kesal.
Pertemuan lainnya diakhir cerita Sal dengan Malano yang gemar dengan mata pelajaran Geografi, tapi harus putus sekolah ketika kelas dua SMP – tentu karena biaya. Lelaki tua itu duduk bersebelahan dengannya diatas bus ketika hendak pulang ke kampung halaman. Kisah Malano digambarkan sebagai pengingat untuk Sal bahwa adanya tuntutan dalam masyarakat untuk hidup normal.
Namun, ada tokoh yang selalu disebut oleh Sal namun tidak pernah muncul dalam adegan cerita. Dia adalah sepupu Sal bernama Anwar dan sahabat Sal, yaitu Tom, bahwa ia “Seseorang yang selalu ingin dipanggil Tom meski nama aslinya Rustam”.  Perkataan Tom selalu muncul ketika  keadian-kejadian menimpanya dan menyadarkannya kembali mengenai lingkungan sekitar. Bisa dibilang Tom adalah tokoh panutan bagi Sal. Misalnya saat Sal pertama kali sadar berasa di rumah Lani dan ditawari minum, nasehat Tom muncul sebagai berikut:
“Jika kau masih merasa haus dan lapar, artinya kau akan bertahan hidup sebab kau akan melakukan apapun agar tidak selamanya merasa haus atau lapar”. Teringat ucapan Tom, sedikit banyaknya membuat ia tenang. Ia tak lagi mencemaskan air yang sudah diminumnya berisi racun atau tidak. (Hal.10).

Cerita dalam buku ini berakhir dengan kepulangan Sal ke kampung untuk mengurus pemindahan kuburan ibunya. Karena dianggap menghalangi rencana pelebaran jalan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Selain itu, karena ia juga telah kehilangan pekerjaannya setelah bertemu dengan Laurell. Rencana jangka pendeknya ia akan tinggal di kampung menjadi petani, tanpa mengacuhkan perspektif orang. Dimana tak seharusnya orang yang bersekolah tinggi di kota tak seharusnya mengayunkan cangkul. Ia merasa harus ada seseorang yang harus mengubah pandangan bersekolah tinggi harus bekerja di kantor atau menjadi pns secara bertahap.
Tapi hidup adalah pengulangan demi pengulangan? Tidak ada yang berubah: omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain diganti dengan omong kosong lain dan seterusnya- hanya saja, variasinya yang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Puisi Omong Kosong

Orang bilang kau berharta Mampu memberikan apa saja Orang bilang kau itu penderma Nian baik citramu di mata mereka Gegap gempita mengelu-elukanmu Kelihaian bertutur kata jadi senjata Orang-orang percaya tanpa berpikir lagi Simpati bualan kau jadikan siasat memperdaya Orang-orang kau buat terbuai tanpa bertanya lagi Nyatanya hingga kini tak satupun janji yang kau tepati Geram terasa, penyesalan tak berguna,semua terasa hampa Makassar, 20 Juni 2019

#Info Makna Topi Toga

Kita mungkin pernah melihat teman atau keluarga mengenakan Toga saat wisuda. Sebenarnya apayah maknaya? Nah, jadi pakaian wisuda yang identik dengan warna hitam itu menyimbolkan misteri kegelapan yang telah dikalahkan oleh wisudawan ketika diperkuliahan (wah seram amat yah). Arti lain yaitu para sarjana mampu menyibak kegelapan dengan ilmu yang telah diperolehnya selama kuliah. Warna hitam juga melambangkan keagungan. Topi toga yang berbentuk persegi melambangkan agar para sarjana mampu berpikir rasional dan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jadi jangan sampai ketika sudah sarjana pikiran kita masih berpikir sempit. Sedangkan kuncir pita yang semula dikiri kemudian dipindah kekanan, itu maksudnya adalah ketika diperkuliahan banyak dilatih menggunakan otak kiri, yaitu tempatnya hafalan dan bahasa. Dan diharapkan ketika lulus nanti para sarjana juga menggunakan otak kanan, yaitu tempatnya berpikir tentang imajinasi, kreativitas dan inovasi. Ref: sobatjogja

#Info Kebiasaan Sepele yang Memicu Keriputan Dini

Mengutip dari WebMD, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kulit keriput. Bahkan kita tak menyadari kalau hal tersebut dapat membuat kulit keriput cepat terlihat. Yaitu: 1. Terlalu sering terkena sinar matahari Kulit keriput juga bisa disebabkan karena terlalu sering terkena paparan sinar matahari. Sinar ultraviolet diketahui dapat menembus dan merusak struktur pendukung di dalam kulit. Tak hanya menyebabkan keriput, sinar matahari langsung juga membuat kulit menjadi kering dan tanda penuaan dini lainnya. 2. Posisi tidur Jangan terkejut bila posisi tidur juga menjadi salah satu penyebab kulit keriput di usia muda. Meskipun sudah menggunakan sarung bantal yang berbahan halus, tetap saja tekanan pada wajah saat Anda tertidur membuat kulit menjadi keriput. 3. Diet yang putus nyambung Beberapa pakar percaya kalau orang yang sering melakukan diet putus nyambung selama beberapa tahun bisa memengaruhi kesehatan kulit. Sebab, kulit nantinya akan melebar dan mengecil seiri...