
Manusia adalah makhluk pemuja. Mudah mengagumi sesuatu, terutama berkaitan dengan keindahan. Salah satunya ketika langit berhias semburat jingga dengan tepian mega-mega yang telah menjadi keemasan. Itulah senja. Sebagian dari kita benar adanya mengagumi dan terpesona dengan peristiwa tersebut. Hingga ingin berlama-lama memandangnya, bahkan banyak pujangga yang terinspirasi. Namun apa jadinya jika yang ada hanya senja, tanpa pagi dan malam?
Dalam buku ini, Seno Gumira membawa kita dalam dunia fantasi. Sama halnya dengan karya-karya sebelumnya, mengajak kita bertualang dalam khayalan. Lewat ide sederhananya, tapi sarat akan makna. Seperti halnya buku ini bercerita mengenai suatu tempat yang ditemui seorang pemuda dalam perjalanan untuk menghilangkan kesedihan hidupnya. Menjadi pengembara, tanpa arah tujuan. Hingga langkah kaki membawanya ke negeri kecil yang tak terdapat dalam peta. Dan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Lorong-lorong bangunannya yang suram, gelap, dan tenggelam dalam bayangan matahari senja.
Tidak hanya itu, masih banyak hal aneh lainnya yang terjadi. Seperti penduduknya yang menutup seluruh tubuh dengan jubah. Hingga yang terlihat hanya sepasang bola mata dimana-mana. Mereka jarang berbicara dan lebih sering bertukar pikiran melalui tatapan dan sebagainya kecuali melalui lisan. Keceriaan tak tampak sedikitpun, tak ada warna merah jambu, hijau dan lainnya di sana, selain warna senja matahari menggantung di cakrawala, berusaha terbenam tapi sia-sia. Itulah negeri senja.
“Kalau matahari di Negeri senja itu tersangkut di cakrawala, mestinya negeri lain keadaannya juga tidak pernah berubah. Tapi ini tidak, hanya di Negeri Senja matahari tidak pernah terbenam”. (hal.8)
Penulis mengajak kita membayangkan suatu keadaan yang tak terduga sebelumnya. Senja yang biasa kita kaitkan dengan keindahan dan romantisme. Diubah menjadi kisah tentang pemberontakan terhadap tirani penguasa. Hal tersebut dilakukan rakyat karena penguasa yang memerintah sangat brutal dan menempatkan golongannya di atas kepentingan rakyat. Perilaku tersebut sesuai dengan nama tokoh utamanya yaitu Tirana. Walaupun sepenuhnya tidak berkisah tentang itu saja, di dalamnya juga termuat tentang pengorbanan, petualangan, dan tak ketinggalan pula kisah cinta.
Senja yang dikisahkan tak pernah berubah, sebagai penggambaran pola kehidupan sehari-hari yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Dan kebiasaan yang dimaksudkan adalah berpikir, dan lebih spesifik lagi yakni bertukar pikiran atau gagasan.
Dengan kebiasaan tersebut penguasa tentu merasa terancam. Takut kekuasaannya digulingkan. Sebab melalui pertukaran gagasan, masyarakat dapat saling mempengaruhi. Terlebih jika penguasa tersebut dirasa tidak pantas memimpin.
“Tirana tidak akan pernah membiarkan pikiran siapapun menjadi pedoman tandingan”. (hal.129)
Seperti itulah yang hendak digambarkan dalam buku ini. Dimana sang penguasa Negeri Senja adalah seorang perempuan buta.. Tapi mempunyai kemampuan pendengaran dan membaca pikiran yang sangat baik. Ia mampu membaca pikiran siapa saja dan dimana saja dengan bantuan cahaya senja. Menurut saya, penulis menggambarkan seorang yang buta sebagai orang yang diktator atau tiran dalam menjalankan kekuasaannya. Tanpa pandang bulu menghukum siapa saja.
“…jangan dikira bahwa anak kecil dan orang dewasa dibedakan oleh pemerintah Puan Tirana Sang Penguasa yang Buta. Bahkan bagi anak-anak gerakan perlawanan bias berakibatkematian”. (hal 184)
Kemampuan itulah yang ia gunakan untuk tetap mempertahankan kekuasaannya. Masyarakat terus berada di bawah kendali, seperti boneka. Dilarang berpikir dan melakukan segala sesuatu sesuai kehendak. Jika ada yang melanggar dan berniat memberontak maka ia akan segera dibunuh. Kebebasan individu tidak diakui.
“Lawan-lawan politiknya dari semua golongan disapu bersih, nyaris tanpa sisa. Atas nama kemampuan membaca pikiran, siapapun bisa ditangkap, ditahan, dan dihukum mati dalam keadaan apapun”.(hal 68)
Bukan hanya dalam cerita ini saja penggambaran penguasa berusaha mempertahankan kedudukan. Tapi dalam dunia nyata itu pula yang dilakukan oleh pemimpin sebuah negeri. Meski tak semengerikan cara Tirani membungkam masyarakatnya untuk tidak berpikir bahkan berbicara. Sebagaimana yang lumrah terjadi, dimana ada penguasa pasti akan ada yang menentang dan berusaha menggulingkan kekuasaannya.
Begitupun dengan Tirana, walaupun ancamannya telah diketahui seluruh penduduk. Tetap saja ada yang berusaha ingin mengalahkannya, di dalam kegelapan para cendekiawan tetap menyusun berbagai rencana untuk merealisasikan itu. Hingga mendapat dukungan dimana-mana. Mereka semua telah melakukan dua kali percobaan pembunuhan. Namun selalu gagal. Tidak lain karena masyarakat kita sekarang ini yang sangat mudah diadu domba dan terpecah belah. Dan semua pemberontakan hanya menjadi kesia-siaan yang ada hanya ribuan nyawa melayang dan seluruh bangunan Negeri Senja hancur.
“Bagaimana mau mengulingkan kekuasaan, kalau begitu mudah diadu domba? Dasar bodoh. Sudah miskin, bodoh pula”.(hal. 25)
Penggambaran inilah yang kemudian saya sangkutkan dengan kekuasaan disebuah negeri. Dimana masyarakat tidak berdaya jika melawan penguasa, karena kekuatannya jauh lebih besar. Masyarakat juga tidak mampu membaca sepenuhnya yang mana golongan orang-orang yang memiliki hubungan dengan penguasa dan orang yang sepemahaman dengan mereka. Berurusan dengan penguasa memang tidak ada akhirnya, jika tidak cermat maka sama saja kita masuk ke kandang buaya dan mati di sana.
Dengan semua uraian di atas, maka saya dapat mengatakan bahwa penulis berhasil menyampaikan dengan baik apa yang dimaksudkan. Terkhusus mengenai perlawanan terhadap penguasa. Disampaikan dengan bahasa sederhana yang mengalir dan mudah dipahami pembaca. Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam tulisan ini sering disebutkan tentang dua wanita yang memiliki hubungan dengan si pengembara tapi tidak dijelaskan. Yaitu Alina dan Malika yang merupakan masa lalunya. Dan diambil dari novel-novel sebelumnya. Jadi, bagi pembaca baru Seno tentu akan dibuat kebingungan akan hal tersebut. Dan tentang sebuah kotak senja yang dititipkan kepada si pengembara yang tidak dijelaskan pula apa isi dan pentingnya bagi negeri senja.
.
Komentar
Posting Komentar