
Manusia membuat kapal untuk bertarung di laut lepas, bukan menyangkutkan jangkar dan berdiam di bibir pantai. Seperti itulah hakikat kehidupan manusia yang diciptakan tuhan dengan segala liku-liku kehidupannya. Tentu saja itu semacam ujian kenaikan kelas. Tak semua mampu melaluinya dan mendapatkan nilai sempurna. Butuh perjuangan dan kerja keras.
Untuk itu, tentu saja kita membutuhkan dorongan dari manapun itu untuk terus bertahan. Baik dari keluarga, orang sekitar, atau hal tak terduga lainnya. Seperti termotivasi dari novel peraih Hadiah Pulitzer 1953, Award of Merit Medal American Academy of Letters, serta Nobel Sastra 1954. Buku ini hasil pemikiran seorang penulis terkemuka abad 20 dan merupakan karya terakhirnya. Diberi judul “ The Old Man and the Sea” oleh Ernest Hemingway. Dan tak tanggung-tanggung, karyanya ini sampai difilmkan berkali-kali.
Tidak salah jika karya ini mendapat berbagai penghargaan, karena kisahnya yang sangat menginspirasi. Membuat kita kembali berdiri setelah terjatuh. Berangkat dari kisah sederhana seorang lelaki yang tak muda lagi, sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan hidup tanpa sanak saudara.
“Usia adalah pennada waktuku,” kata lelaki ta itu.” Kenapa seorang lelaki tua bangun tidur begitu pagi? Apakah agar dapat memiliki satu hari yang lebih panjang?” (halaman 18)
Beruntungnya ada seorang anak kecil bernama Manolin yang sering membantu dan merawat Santiago. Menyelimutinya saat tidur, memberinya makan, dan menyiapkan peralatan melaut. Nelayan tua asal Kuba tersebut sering mengarungi laut lepas demi menangkap seekor ikan. Namun sudah 84 hari matahari membakar kulitnya dan terombang ambing ombak, tetap saja ia pulang dengan tangan kosong. Yang ada hanya harapan untuk hari esok agar mendapat seekor ikan besar.
Ernest mendeskripsikan tokoh utama dan tempat tinggalnya dengan sangat baik. Sehingga saat membacanya kita dapat langsung membayangkan bagaimana bentuk perawakan nelayan tua ini dan lingkungan sekitarnya. Mungkin karena pengaruh penulis yng hobi berlayar dan memancing serta waktu buku ini ditulis saat ia tingal di kuba. Jadi penggambarannya jelas an nyta. Begitu pula dengan urutan kejadian yang menggunakan alur maju, membuat kita tidak kebingungan.
Walupun dalam penulisnnya kurang dialog, namun itu tidak menjadi alasan untuk bosan membacanya. Semua mengalir begitu saja. Inilah yang membuat buku ini banyak mendapatkan penghargaan.
“ Lelaki tua itu kurus kering dan pucat dengan kulit keriput berkerut merut di tengkuknya. Noda-noda cokelat karena radang kulit ynag disebabkan oleh pancaran sinar matahari laut tropis terlihat di kedua pipiny. Noda itu membentuk pola menurun sampai pada sisi-sisi wajahnya. Di kedua tangannya terdapat bekas-bekas luka yang dalam akibat menarik beban berat dari tali ang dihela oleh seekor ikan besar yang penah berhasil dia tangkap”. (halaman 8)
“ Gubuk itu terbuat dari serat tanaman palem raja yang kuat dan tempat itu dinamakan guano. Di dalam gubuk terdapat sebuah tempat tidur, sebuah meja, satu kursi, dan satu tempat di lantai yang kotor yang digunakan untuk memasak menggunakan bahan bakar dari arang. pada dindingcokelat yang mencolok, tempat daun-daun dari guano berserat kokoh saling tumpuk, terdapat gambar Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria dari Cobre”. (halaman 18)
Kemudian pada hari ke-85 ia kembali membentangkan layar kapalnya yang kecil mengarungi lautan dan tetap yakin hari itu ia akan mendapatkan seekor ikan yang selama ini ia harapkan. Dengan bekal seadanya ia tetap menunggu seekor ikan yang sudi memakan umpan yang ia jatuhkan. Hingga penantian itu akhirnya membuahkan hasil, umpannya di makan seekor ikan marlin yang lebih panjang dari perahunya sendiri, tak pernah terduga. Santiago tak sanggup menariknya, bahkan ia dan perahunya yang terseret lebih jauh.
“ Dia setengah meter lebih panjang dari perahu,” ujar lelaki tua itu. (halaman 69)
Tentu sulit baginya untuk menaklukkan ikan sebesar itu, setelah beberapa hari barulah ikan tersebut dapat ia ikat di samping perahunya. Tak dapat dibayangkan sensasi perjuangan menangkap ikan di tengah laut seorang diri saat tubuh sudah tak muda lagi dan dihadapkan antara hidup atau mati bersama seekor ikan. Namun sayangnya, ikan besar Santiago tinggal tulang dan kepalanya yang sampai ke daratan. Karena perjalanan pulang ikan hiu menyerang dan memakan dagingnya.
Seharusnya Santiago dapat langsung memotong-motong daging ikannya dan disimpan di tas perahu setelah diterkam hiu pertama. Agar tidak mengundang hiu lain untuk datang memakan kembali daging ikan marlin miliknya.
“ Diikatkannya ikan itu dengan erat di haluan dan buritan serta pada bgian tengah perahu. Ikan itu begitu besar hingga dia seakan mengikatkan sebuah perahu yang lebih besar di samping perahunya”. (halaman 106)
Kisah ini benar-benar memberi pelajaran bahwa dalam hidup ini harapan yang membuat kita terus melanjutkan hidup. Karena kita tidak tahu kapan tuhan akan mengabulkan harapan itu. Yang perlu kita lakukan adalah berusahasekuat tenaga dan tidak mudah putus asa apalagi menyerah. Walaupun sering kali apa yang didapatkan benar jauh dari harapan. Tapi kita harus percaya tuhan akan mengabulkan itu pada waktunya.
Komentar
Posting Komentar